PROGRAM KEBERSIHAN WANITA

873BF9D4-A890-42EA-8C04-CDE26EBB73BB-10986-000003675BEC9C98.jpg
873BF9D4-A890-42EA-8C04-CDE26EBB73BB-10986-000003675BEC9C98.jpg

LATAR BELAKANG

 Salah satu program sosialisasi Mudfish No Plastic adalah memberikan workshop dan solusi praktis untuk mengedukasi dan memberdayakan perempuan Indonesia tentang isu-isu kesehatan terkait kebersihan kewanitaan.

Lokakarya memotivasi para wanita untuk “mengatakan tidak pada plastik sekali pakai” dan membuat pilihan yang lebih ramah lingkungan dengan menggunakan pembalut dan popok yang dapat digunakan kembali. Miliaran pembalut sekali pakai berakhir di tempat sampah. Untuk itu, perlu diciptakan kesadaran bersama untuk mengurangi atau menghilangkan pembalut wanita sekali pakai. Dalam pembuatannya digunakan bahan penyerap yang mengandung bahan kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh dan lingkungan, seperti dioksin, pemutih, pewangi, dan senyawa plastik. Menurut data Biyung Indonesia, ada sekitar 70 juta wanita yang mengalami menstruasi aktif. Jika kita berasumsi bahwa setiap orang menggunakan 20 pembalut setiap bulan, 1,4 miliar pembalut sekali pakai akan berakhir di tempat sampah. Dari jumlah itu, ada 16,8 miliar pembalut dalam setahun.

IMG_20220727_10191212_edited.jpg

MASALAH

 Ada 2 faktor yang mempengaruhi keputusan wanita untuk menggunakan popok sekali pakai atau pembalut wanita – norma budaya dan pertimbangan keuangan.  Program apa pun di Indonesia yang melibatkan Kebersihan Menstruasi Manajemen (MHM) harus menghadapi kenyataan bahwa dalam banyak budaya dan masyarakat, menstruasi dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan karena dianggap negatif, memalukan, tidak higienis, atau sebagai bentuk penyakit. Kesalahpahaman tersebut, dan kurangnya informasi, menyebabkan banyak perempuan dan anak perempuan memiliki pengetahuan yang tidak tepat tentang menstruasi, dan dengan demikian berdampak negatif pada perilaku mereka mengenai penggunaan popok sekali pakai dan pembalut wanita dan cara mereka membuangnya setelah digunakan. Dan karena sebagian besar orang Indonesia kurang beruntung secara finansial, fakta bahwa popok dan popok yang dapat digunakan kembali membawa investasi awal yang lebih tinggi daripada popok yang dapat digunakan kembali.

IMG_20220727_10191212_edited.jpg
54859F93-2A0E-4A7B-98F2-AE5B8281B75F-10986-000003679F131D54.jpg
54859F93-2A0E-4A7B-98F2-AE5B8281B75F-10986-000003679F131D54.jpg

SOLUSI KAMI

 Ada 2 faktor yang mempengaruhi keputusan wanita untuk menggunakan popok sekali pakai atau pembalut wanita – norma budaya dan pertimbangan keuangan.  Program apa pun di Indonesia yang melibatkan Kebersihan Menstruasi Manajemen (MHM) harus menghadapi kenyataan bahwa dalam banyak budaya dan masyarakat, menstruasi dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan karena dianggap negatif, memalukan, tidak higienis, atau sebagai bentuk penyakit. Kesalahpahaman tersebut, dan kurangnya informasi, menyebabkan banyak perempuan dan anak perempuan memiliki pengetahuan yang tidak tepat tentang menstruasi, dan dengan demikian berdampak negatif pada perilaku mereka mengenai penggunaan popok sekali pakai dan pembalut wanita dan cara mereka membuangnya setelah digunakan. Dan karena sebagian besar orang Indonesia kurang beruntung secara finansial, fakta bahwa popok dan popok yang dapat digunakan kembali membawa investasi awal yang lebih tinggi daripada popok yang dapat digunakan kembali.